Selasa, 02 Agustus 2022

            KULINER KHAS YOGYAKARTA


BAKMI JAWA


Bakmi Jawa merupakan salah satu makanan khas khususnya di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya. Bakmi Jawa atau Mi Jawa dahulu dikenal dengan istilah bakmi rebus atau dalam bahasa jawa disebut dengan Bakmi godhog yang dimasak dengan bumbu dan rempah yang khas masakan Jawa. Diluar negeri seperti di Singapura dan Malaysia, Bakmi Jawa dikenal dengan sebutan mee rebus meskipun sebenarnya Bakmi Jawa memiliki banyak variasi seperti mie goreng dan bahkan penjual Bakmi jawa di Yogyakarta pasti juga menjual nasi goreng di dalam menu masakannya.

Keistimewaan Bakmi Jawa lainnya adalah pada cara pengolahannya. Bakmi jawa dimasak masih menggunakan cara tradisional yaitu masih menggunakan tungku tanah liat (anglo) dan api dari arang. Setiap pembeli bakmi jawa meskipun memesan dengan jumlah posri yang banyak, namun penjual bisanya membuatnya tetap satu persatu porsi menggunakan wajan yang kecil tidak diolah secara missal secara berbarengan. Hal tersebut akan menjaga rasa bakmi jawa sehingga tetap khas di lidah. Keistimewaan lainnya bakmi ini adalah pada suwiran daging ayam kampong dan telur bebek sebagai bahan membuatnya. Rasa yang akan diperoleh dari bahan-bahan tersebut akan membuat rasa bakmi Jawa menjadi khas.


      GUDEG


Gudeg telah dikenal oleh masyarakat Indonesia khususnya sebagai makanan khas dari KotaYogyakarta. Popularitas tersebut juga yang membuat Yogyakarta dikenal dengan nama Kota Gudeg. Gudeg adalah makanan tradisional yang terbuat dari Nangka muda (nangka) yang direbus selama beberapa jam dengan gula kelapa serta santan. Dengan dilengkapi dengan berbagai bumbu tambahan membuat Gudeg menjadi terasa manis dilidah dan memiliki rasa yang khas dan enak sesuai dengan selera masyarakat Jawa pada umumnya.

Pada penyajiannya, Gudeg biasa di lengkapi dengan nasi putih, ayam, telur rebus, tahu atau tempe, dan rebusan terbuat dari kulit sapi segar atau lebih dikenal dengan nama sambal goreng krecek. Ada beberapa jenis Gudeg yang dikenal saat ini yaitu jenis Gudeg kering dan Gudeg basah. Gudeg kering hanya memiliki sedikit santan sementara Gudeg basah mencakup lebih banyak susu kelapa atau santan. Jenis-jenis Gudeg tersebut juga mempengaruhi rasa yang dimiliki oleh Gudeg. Meskipun biasanya manis, Gudeg kadang juga memiliki rasa yang pedas seperti yang terdapat pada wilayah Jawa Timur.

Awalnya Gudeg yang dikenal oleh masyarakat Indonesia khususnya Yogyakarta jaman dahulu adalah Gudeg Basah. Seiring perkembangan jaman, kebutuhan Gudeg untuk oleh-oleh yang semakin berkembang juga seirama dengan munculnya Gudeg kering. Gudeg kering baru ditemukan sekitar enam dasawarsa yang lalu. Sifatnya yang kering membuat gudeg tersebut tahan lama dan sering dimanfaatkan sebagai oleh-oleh yang tentu saja berdampak dengan munculnya industri rumahan yang menyajikan oleh-oleh Gudeg khas Yogyakarta.

Keunikan lainnya dari masakan gudeg adalah kemasannya. Apabila Anda berbelanja Gudeg sebagai makanan khas Yogyakarta, tidak jarang Gudeg tersebut dikemas dengan menggunakan besek. Besek adalah bungkus dari anyaman bamboo yang dibentuk sedemikian rupa berbentuk segi empat dan dapat digunakan sebagai tempat Makanan. Selain itu Gudeg juga sering dikemas menggunakan kendil yaitu berupa wadah yang terbuat dari tanah liat. Kemasan tersebut biasanya banyak ditemukan pada para penjual gudeg yang telah terkenal di Yogyakarta seperti Gudeg Wijilan. Wijilan memang merupakan sebuah areal yang terkenal dengan penjual Gudegnya.


BAKPIA PATHOK



Bakpia adalah kue berbentuk bulat pipih, yang berisi campuran kacang hijau dengan gula. Kue ini sebenarnya tidak asli berasal dari Yogyakarta, melainkan daratan Tiongkok. Di Tiongkok, kue ini bernama Tou Luk Pia yang artinya adalah kue kacang hijau.

Secara historis, bakpia adalah makanan "impor" dari negeri Tiongkok yang dibawa oleh para imigran Tionghoa pada dekade awal abad ke-20. Bakpia ini konon sudah ada sejak tahun 1930. Dibawa oleh keluarga-keluarga pedagang Tionghoa yang banyak menempati pusat Kota Yogyakarta.

Jenis makanan ini awalnya bukanlah makanan komersil, juga bukan makanan yang bernilai kultural seperti kue keranjang yang sering menjadi kue dalam perayaan Imlek. Posisinya adalah sebagai pelengkap dari kue keranjang tersebut dan sebagai kudapan (snack) keluarga.
Namun kesulitan ekonomi keluarga Tionghoa di Yogyakarta diduga menjadi salah satu faktor yang membuat makanan ini dikomersilkan. Dugaan itu muncul mengingat relevansi waktu antara munculnya bakpia pada 1930-an dengan depresi ekonomi Hindia- Belanda. Pada saat itu, aktivitas ekonomi perdagangan keturunan Tionghoa di Yogyakarta mengalami kemunduran.

Salah satu keturunan Tionghoa, Goei Gee Oee kemudian memproduksi bakpia sebagai industri rumahan pada 1930-an. Bakpia yang didirikannya bernama Bakpia Pathuk 55.

Kemudian diikuti oleh Liem Yu Yen sekitar tahun 1948 yang diberi nama Bakpia Pathuk 75. Sampai pada tahun 1970, bakpia baru diproduksi oleh dua keluarga ini di Pathuk.

Waktu itu masih diperdagangkan secara eceran, dikemas dalam besek tanpa label dengan peminat yang masih terbatas. Kemasan bakpia kemudian berkembang hingga mengalami perubahan menjadi kertas karton yang disertai label tempelan.
Perubahan terjadi ketika seseorang bernama Suwarsono menyebarkan keahlian membuat bakpia di Pathok. Suwarsono alias Sonder yang saat ini pemilik dari Bakpia 543 Sonder merupakan bekas pekerja dari Bakpia 75. Ia memutuskan keluar pada tahun 1972, untuk kemudian menyebarkan keahlian membuat bakpia di seluruh wilayah Pathuk.

Dari situlah, muncul berbagai industri kecil rumahan sekitar tahun 1980-an di Pathuk. Bakpia mulai diperdagangkan dengan kemasan baru dan dilabeli sesuai nomor rumah.

Misalkan Tan Ria Nio, yang memberi merek Bakpia Pathok 25 yang artinya ia membuka usaha di jalan Pathuk nomor 25. Kesuksesan bisnis bakpia 55, 75 dan 25 membuat kue oleh-oleh ini pun menjadi booming sekitar tahun 1992.

Letak Pathuk yang tepat di jantung kota Yogyakarta memberikan keuntungan berkali lipat. Masyarakat yang memproduksi bakpia menjadi lebih mudah menjajakan makanan oleh-oleh ini kepada para wisatawan.
Penganan bakpia kini berkembang luas tak hanya berpusat di Pathuk. Ada pula Bakpia Minomartani di Desa Minomartani, Kecamatan Ngaglik, Sleman, dan Bakpia Japon di Desa Trimurti, Kecamatan Srandakan, Bantul yang diproduksi oleh banyak industri rumah tangga.

Semakin menjamurnya bisnis bakpia, produsen mau tak mau harus berinovasi agar roda bisnisnya tetap berjalan. Satu di antara upaya yang mereka lakukan adalah berinovasi dengan rasa.

Seperti yang dilihat kini bakpia tidak hanya berisi kacang hijau, tetapi lebih beragam seperti kumbu hitam, coklat, keju, nanas, duren, coklat kacang, kurma dan berbagai macam rasa lainnya.

Ada pula varian bakpia baru seperti roti yang berlapis-lapis. Produsen bakpia pathuk pun terus berinovasi mengikuti tren selera konsumen.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

             KULINER KHAS YOGYAKARTA BAKMI JAWA Bakmi Jawa merupakan salah satu makanan khas khususnya di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya....